Melihat ke belakang, saat masih pertama kali masuk kuliah. Aku sadar Kak Rendy merubahku menjadi lebih baik secara tidak langsung. Aku ingin terus mendapat motivasi darinya agar aku dapat terus berubah menjadi lebih baik. Tuhan baik mengenalkanku dengan dia yang aku cinta dalam diam. Sendiri memendam rasa yang ada, sendiri menahan luka yang sering datang. Entah apa yang harus aku lakukan, bimbang mengambang tanpa arah dan tujuan. Berusaha berhenti dari perasaan ini aku tidak bisa. Melakukan hal seperti itu hanya membuatku lelah. Maka semampuku aku melakukan apa yang bisa dilakukan. Supaya aku bisa sama dengan Kak Rendy dan pantas untuk dipilih olehnya.
Tidak ada kata sia-sia semua akan menjadi nyata kalau aku berusaha. Berhenti mencari-cari apa yang kurang didiriku ini. Terlalu mencintai seseorang yang tak bisa dibandingkan denganku. Tapi aku masih ingin bersamanya, kekuranganku banyak tapi aku tahu aku mampu membuat kekuranganku tak terlihat olehnya. Dengan sebuah keajaiban aku berharap semua itu akan terwujud. Semampuku aku memantaskan diri denganya. Meskipun seberapa besar usahaku tak akan pantas jika dibandingkan dengan kekuranganku. Andai aku bisa menghilangkan kekuranganku ini menjadi kelebihan. Rasanya pasti seperti mimpi. Mimpi yang indah dan membuatku ingin terus bermimpi. Tak apalah Tuhan tahu apa yang terbaik untuk umatnya, termasuk aku. Jadi akhir-akhir ini aku menyibukan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan, kesana kesini membiarkan cinta ini bersemi. Dan mencoba untuk memperbaiki diri agar aku pantas untuk berada disampingnya.
“ Kai, loe udah ngecek berapa orang yang bakalan hadir?” tanya Danil
“ Belum Kak Danil tapi setelah kuliah ini aku bakalan cek untuk yang terakhir kali” jawabku
“ Okk, besok ada acara kan di depan fakultasmu?” sambung Danil
“ Iyaa, Kak sepertinya iyaa dari mahasiswa progam studi Sastra Indonesia” Jawabku sambil melihat Danil
“ Nah, tugas loe cari tahu tentang acara itu dari awal sampai akhir yaa” perintah Danil
“ Apa? Aku Kak,,” jawabku kaget
“ Besok laporanya harus sudah jadi. Okee.. semangat Kaila” kata Danil dan langsung meninggalkan aku sendiri.
Tuhan memang adil baru semalam aku memohon untuk mendapat kesibukan. Hari ini sudah diberikan satu kesibukan. Tidak apalah demi Kak Rendy, hihi. Kan aku tahu Kak Rendy adalah anak organisasi banget. Maka sebisa mungkin aku melakukan apapun agar aku terlihat baik dimatanya.
“ Kai,” teriak Sisil
“ Udah selesai belom urusanmu sama dosen?” tanyaku
“ emm.. udah kok, lama yaa sorry” sambung Sisil
“ Halah, santai. Besok ikut gue yuk? nonton acara mahasiswa Sastra Indonesia di depan area parkir” ajakku sambil menatap Sisil penuh harap
“ Gue besok mau pergi sama Kak Wisnu” jawab Sisil
“ Loe mah gituu” kataku langsung cemberut
“ Iyaa deh, iyaa gue temenin tapi bibir loe nggk usah manyun gitu juga kali” sambung Sisil
“ Beneran” tanyaku senang
“ Iyalah, masak bohong” jawab Sisil
“ Makasih baby” sambungku dan langsung memeluk Sisil erat
Sisil memang temanku paling kece, aku bahagia punya dia disela kejombloanku. Matakuliah hari ini telah berakhir, aku segera membereskan bukuku untuk menonton acara didepan fakultas. Segera ku hampiri Sisil dan langsung ku seret dia supaya bisa duduk di depan. Berlari dengan nafas terengah-engah.
bersambung...
